Seorang Hindu yang berkelana sendiri di dunia maya mencari ketenangan, mempelajari Hindu dari sisi yang berbeda dan terus mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan Hindu namun belum banyak ia dapatkan.

Persembayangan Hari Raya Nyepi (foto: Tribunnews.com)
Persembayangan Hari Raya Nyepi (foto: Tribunnews.com)
Beberapa hari yang lalu umat Hindu baru saja merayakan hari raya Nyepi. Yakni hari raya yang dirayakan pada saat tahun baru berdasarkan kalender Saka. Di mana tepat pada saat matahari menuju garis lintang utara atau yang dikenal orang Hindu di Bali dengan Devayana. Devayana adalah waktu yang paling tepat untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu provonsi di Indonesia yang berpenduduk mayoritas umat Hindu adalah Bali.

Khusus di hari Nyepi, suasana di Bali terasa amat berbeda dengan biasanya. Tidak ada aktivitas di luar rumah, sekolah di liburkan dan semua aktivitas ditiadakan. Hanya fasilitas umum seperti rumah sakit saja yang diperbolehkan beroperasi. Hal ini karena tepat di hari itu umat Hindu melakukan perenungan diri selama 24 jam agar diharapkan dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ada beberapa larangan yang dilakukan di hari Nyepi, yakni Ameti Karya yaitu tidak boleh bekerja, Ameti Lelungan yaitu tidak boleh bepergian, Ameti Laguang yaitu tidak melakukan puasa, dan Ameti Geni yaitu tidakboleh bermain api dan harus menahan hawa nafsu.

Perayaan Nyepi di Bali sudah berlangsung sejak abad ke-78 masehi silam. Perayaan Nyepi dilakukan dalam beberapa rangkaian upacara adat seperti melasti, Bhuta Yajna, dan Ngembak Geni.

Upacara Melasti adalah upacara dilakukan dua atau tiga hari sebelum hari raya Nyepi. Di hari itu, umat hindu mengarak segala perlengkapan sembahyang yang ada di pura ke danau, sungai, atau laut. Karena ketiga tempat tersebut adalah sumber air suci yang diyakini dapat menjadi media penyuci dari segala kotoran yang ada dalam diri manusia.

Kemudian, sehari sebelum hari raya dilakukan upacara Bhuta Yajna yakni upacara yang dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat. Ritual tersebut dilaksanakan dengan membuat patung buta kala atau raksasa jahat atau dalam bahasa bali dikenal dengan istilah ogoh-ogoh. Upacara ogoh-ogoh dilakukan di depan rumah atau alun-alun. Ogoh-ogoh tersebut diarak beramai-ramai ke seluruh kampung dan dimulai dari petang hingga terbenamnya matahari, atau paling lambat pukul 24.00. Selesai diarak, ogoh-ogoh kemudian dibakar dan ritual ini mengandung makna bahwa pada saat hari raya Nyepi seluruh roh-roh jahat dimusnahkan. Keesokan harinya umat hindu melakukan penyepian selama 24 jam.

Ritual yang terakhir adalah Ngembak Geni yang dilakukan pada hari kedua Nyepi dengan ber-dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga. Makna dari Dharma Shanti adalah menyadari bahwa seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan siap memulai tahun baru saka dengan jiwa positif. Oleh karena itu pada saat Ngembak Geni, umat Hindu berkunjung ke sanak keluarga dan masyarakat sekitar untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru, saling memaafkan, menyayangi dan hidup rukun. Pada hari itu juga, masyarakat Hindu melakukan puasa, sembahyang dan meditasi.

(Sumber: AVIVA.co.id)

Recent search terms:

  • ameti geni ameti karye

Comments

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *