[Share] Untuk Orang Bali, Dari Orang Batak

Artikel yang muat dibawah ini bukan untuk bertujuan rasis atau untuk bersombong diri dengan apa yang sudah menjadi tradisi di lingkungan budaya bali namun lihatlah mereka betapa hebatnya rasa persaudaraan mereka layaknya dalam sebuah cerita sinetron tapi inilah kisah nyata yang pernah dialami loleh saudara kita asal tanah Sumatera Bang Julius Silalahi.

[julius silalahi; batak news; pujian untuk suku bali]

I Made Ariana, dosen ITS Surabaya, kini tengah kuliah S3 di Jepang. Ia orang Bali. Seorang Batak menceritakan kebaikan dan ketulusan I Made Ariana selama mereka berteman di bangku kuliah.

Julius SilalahiSering aku berinteraksi dengan kawan-kawan suku Bali, baik saat kuliah, kost, dan di lingkungan kerja. Sifat mereka menghargai orang lain, ramah, baik dan santun; meninggalkan kesan dalam hingga kuanggap seperti itulah orang-orang Bali umumnya.

Mungkin komunitas orang Batak di Indonesia lebih banyak dibanding Bali. Tapi lihatlah, banyak mereka jadi pejabat tinggi di pemerintahan. Apalagi di TNI, Polri dan swasta bonafit. Di kampus-kampus mereka jadi dosen sampai guru besar. Di perkuliahan prestasi akademisnya banyak yang menonjol. Semua ini buah dari ketulusan, dedikasi dan totalitas.

Budaya yang masih bertahan kuat dan sejalan dengan keyakinan agama membuat kelebihan di atas mewarnai keseharian dan kebiasaan. Saat berteman, diskusi atau sekedar obrolan biasa pun memberi gambaran mereka berkarakter kuat dan pribadi yang hangat dan tulus. Di lingkungan keluarga mereka, aku serasa dianggap saudara.

Aku punya kisah kecil yang mengawali apresiasiku yang dalam terhadap orang Bali. De (panggilanku untuk I Made Ariana), tahun 1992 kita libur kuliah dan sepakat memilih Bali tempat tujuan karena 2 hal. Pertama aku yang dari kota kecil Sibolga seumur-umur belum pernah ke Bali, hanya membayangkan. Tentu kegembiraanku luar biasa jika “akhirnya aku bisa ke Bali”. Kedua tentu sisi ekonomis dengan numpang di rumahmu dan kau akan membawaku keliling-keliling.

Jimbaran tempat tinggalmu. Yang pertama kudapati adalah keramahan keluargamu, sanak famili, juga tetangga-tetangga. Aku sangat betah. Aku suka masakan rumput laut dan babi guling buatan ibumu. Tentu semakin lengkap dengan jalan-jalan kita ke Kuta, Nusa Dua, Bedugul, Gianyar, Tampak Siring, berperahu di pinggiran jimbaran, dll. Indah sekali De. Tak kulewatkan jepret sana-sini pake tustel pinjaman punya si Iskandar.

De, kau masih ingat, seminggu kemudian tiba-tiba aku sakit. Siang hari. Kau bawa aku naik motormu ke RS Sanglah Denpasar. Usus buntu akut katanya. Semua serba buru-buru. Masuklah aku ke meja operasi, aku tak ingat lagi kelanjutannya.

Setelah sadar kutemui diriku di ruang karantina. Masih pagi sekali, kulihat kau dan abangmu di balik kaca yang masih berembun.

Kau tahu De, kedatangan kalian menghiburku, mendukung moralku tetap kuat. Tak terbayangkan kejadian ini menimpaku. Aku tidak siap, bingung biayanya dan tak ada keluarga yang bisa kukabari secepat itu. Orangtuaku yang guru si Didi ada sibolga, mengabarkan saja harus pake surat. Uang libur ke Bali adalah hasil pengiritan dari kiriman bulanan yang pas-pasan. Lama kutabung itu.

De, aku ketakutan, khawatir dan hanya pasrah dan berserah. Untunglah, kau memang gak ngomong ke aku, tapi kulihat kau yang urus semua sampai pengambilan obat di apotik. Semuanya.

Dipindahkan ke bangsal, 3 hari lamanya. Tapi aku tidak merasa kesepian. Bergantian orangtua, saudara, sanak famili bahkan tetanggamu menjenguk dan menghiburku. Dari pagi sampai sore. Juga membawakanku makanan.

Pun ketika Pamanku (Tulang) yang baru pulang berlayar tiba-tiba sudah muncul di depanku. Itu karna usahamu dan Ida Bagus Arinarta menghubunginya lewat lika-liku jalan Kalimas Surabaya. Itulah pertemuan pertamaku dengan Paman sejak aku 2 tahun di Surabaya.

De, tak bisa kuungkapkan bahagiaku. Salut dan hormatku padamu, keluargamu, sanak famili dan lingkunganmu. Ditambahkan ucapan terima kasih pun tak cukup membalas semua itu. Kebaikan, keramahan kalian yang sangat tulus tetap tersimpan rapi di hatiku hingga sekarang. Patung garuda yang kubeli itu masih terpajang baik di gubuk ortu-ku di kampung Silalahi sana, untukku adalah monumen kebajikan.

Kesan ini bagiku adalah gambaran Bali secara umum, di mana pun aku bertemu dengan orang-orangmu.

I Made Ariana, sekarang sedang menjalani studi S3 di Kobe University Jepang, adalah dosen di ITS Surabaya. Semoga makin sukses kawan. Doaku ikut menyertaimu. [http://www.blogberita.com]

CATATAN JARAR SIAHAAN:
Penulis artikel ini, Julius Silalahi, biasa berkomentar di blog Batak News dengan nama alias JoeS. Ia pria kelahiran Sibolga, tamatan ITS Surabaya, dan kini bekerja di Pekan Baru.

“Aku seorang koruptor,” kata Julius suatu ketika secara guyon di blog ini, “karena aku korupsi waktu setiap hari di kantor untuk membaca Batak News.” Ia pernah bermimpi ketemu Yesus; ceritanya baca di sini.

Engkau juga bisa berbagi kisah-kisah pribadimu yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Kirimkan saja via imel: bataknews [at] gmail [dot] com. Kalau ada fotomu, lebih bagus. Seperti biasa, kuucapkan selamat berakhir pekan, kawan.

Sumber: BatakNews

Comments

Comments

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.