Kisahku: Keajaiban Sebuah Doa di Lamongan

MediaHindu.com – Artikel ini sebenarnya sudah lama berlalulalang di internet tapi baru hari ini saya ingin menerbitkannya di situs MediaHindu.com, semoga pengalaman dari penulis ini bisa jadi pengetahuan yang berharga bagi semua umat Hindu Nusantara.

Selesai melakukan tugas ke Manila dan Ke Mumbai, saya minta ijin cuti untuk Wisuda dan sekaligus menengok buah hati kami, bidadari kecilku, Putu Ayu Divayana Paramitha. Mr. Bart seorang Belgia yang menjadi atasan saya, orangnya sangat pengertian, Beliau mengijinkan saya cuti selama dua minggu.

Rasa capek, lelah dan penat dikepala langsung sirna saat melihat buah hati kami tumbuh sehat dengan senyum manisnya yang manja, Diva merengek minta di gendong. Rasa hati ini begitu bahagia saat memeluk putriku yang pertama.

Di saat libur ini tidak lupa saya menyempatkan diri mampir ke kediaman kakak tercinta Bli Gede Mariasa di Tuban, Jawa Timur. Beliau bekerja menjadi Senior Teknisi di bagian Laboratorium PT. TPPI. Kami berbincang-bincang dan berdiskusi, mulai dari hal-hal ringan sampai masalah-masalah hidup. Sudah hampir setahun kami tidak berjumpa, sehingga perjumpaan kali ini rasanya sangat spesial. Kami saling bertukar pikiran bagaimana menyikapi hidup yang semakin sulit terutama dengan kondisi Indonesia yang seperti saat ini. Mbok Mang (demikian kami orang Bali memanggil kakak ipar) sangat sigap menyiapkan segala jenis makanan yang bisa Beliau siapkan. Makanan-makanan ini dengan setia menemani kami berdiskusi, saking asyiknya berdiskusi kami lupa dengan waktu, ternyata waktu telah menunjukkan pukul empat pagi.

Kami tidur sesaat, pukul 7 pagi ponakan-ponakan saya yang lucu; Putu Pramana Yudistira dan Made Samkya telah menggedor pintu kamar, Dek Kya panggilan untuk Made Samkya baru berusia tiga setengah tahun, dengan lembut mencium pipi saya sambil berteriak, ” Om dek…bangun udah siang…”, Bli Gede dan Mbok komang tertawa melihat aksi Dek Kya, ternyata mereka telah menunggu saya diruang tamu, saya cium Kya, makasih ya Dik, saya bergegas ke kamar mandi.

Selesai menyantap sarapan pagi, Bli gede mengajak saya ke sebuah pura yang sangat unik, di wilayah lamongan Jawa Timur. Pura ini terletak di tengah pesawangan, dikelilingi oleh Masjid dan Gereja, sebuah harmoni yang agung, semangat toleransi, kekeluargaan sangat kental di sini. Pengempon pura ini adalah penduduk hindu Jawa.

Kami bersembahyang dipinpin oleh pinandita berasal penduduk pribumi lamungan, Hindu Jawa, seperti biasa selesai sembahyang sang pinandita akan membagikan tirtha (air suci),prosesinya adalah: air suci dipercikkan di atas kepala tiga kali (untuk membersihkan pikiran), selanjutnya air suci ini diminum tiga kali (untuk membersihkan perkataan), terakhir air suci ini di raup (untuk membersihkan perbuatan/tingkah laku kita). Keanehan terjadi saat air suci ini saya raup dan minum. Pertama rasanya tawar, kemudian manis, kemudian asin.

Saya jadi penasaran setelah selesai prosesi sembahyang saya datang ke pinandita, bertanya: “Pak Mangku (panggilan untuk pinandita) mohon maaf boleh saya bertanya? Pinandita; “Dengan senang hati nak Made, kalo saya bisa jawab akan saya terangkan”. Kembali saya lanjutkan bertanya:” Boleh saya tahu kok tirtha (air suci ini rasanya aneh), manis, tawar dan asin?”.

Sambil tersenyum Pinanandita menjelaskan:” Begini nak Made, dulu sejak Pura ini berdiri, kami belum memiliki sumber air suci, setiap kali ada upacara kami pergi ke pura di Surabaya untuk mendapatkan tirtha (air suci). Kemudian para sesepuh kami berkumpul dan berdiskusi (rapat) bagaimana caranya mendapatkan air suci di sini di dekat pura. Kalo bikin sumur biasanya rasanya asin karena dekat laut. Itupun keluar setelah menggali puluhan meter.

Dari hasil rapat diputuskan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan melakukan meditasi bersama, berturut-turut selama seminggu. Setiap Malam para sesepuh dan umat Hindu Jawa dan Bali berkumpul di Pura. pada hari yang keenam muncul cahaya dari angkasa jatuh di bagian kiri tanah wilayah pura. Para sesepuh yang bermeditasi tidak menghiraukannya, mereka terus khusuk berdoa dan bermeditasi mohon tirtha (air suci kepada Tuhan). Hari yang ketujuh muncul lagi cahaya yang sama dan jatuh ditempat yang sama pula. Salah satu dari mereka dapat wahyu bahwa tirtha itu ada di tanah tempat jatuhnya cahaya, dan cukup menggali sedalam 8 meter tidak boleh lebih, akan keluar air suci, air tawar bukan air asin seperti sumur-sumur disekitarnya yang ditemukan air setelah kedalaman puluhan meter.

Dengan semangat para warga menggali, baru empat meter digali ternyata air telah keluar, saat dikecap airnya rasanya tawar seperti air minum biasa gak asin. Warga terus melakukan penggalian hingga kedalaman 8 meter seperti petunjuk yang didapatkan saat mereka meditasi. Mereka bersorak gembira karena telah memiliki sumber air suci untuk segala aktivitas sepritual di pura lamongan. Kemudian air ini dipendak (dijemput) dengan upacara suci dan sebagai ucapan terimakasih kepada Tuhan yang dipinpin oleh seorang Pandita.

Pada hari yang sama beberapa Pandita di daerah lain yang tidak mengetahui aktivitas di lamongan, menerima wisik akan muncul tirtha suci di Lamongan, mereka datang tepat saat tirtha itu muncul. Berita heboh selanjutnya banyak orang yang sakit sembuh setelah minum air suci ini, maka berduyun-duyunlah para umat Hindu datang dari berbagai daerah sembahyang di Pura ini, mohon tirtha suci untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan mereka. Walaupun musim kering, sumur yang dangkal ini tidak pernah kering, level airnyapun tidak pernah turun. Inilah salah satu kekuatan dari Doa dan Meditasi”.

Demikian pinandita mengakiri penjelasannya.
Sumber:singaraja.wordpress.com

Recent search terms:

  • hindu lamongan

Comments

Comments

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.