Hindu, Aku Kembali Padamu (part 8)

Aku harus menutup auratku, tak boleh ada satupun aurat yang terlihat. Saat wudhu semua harus terhindar dari sisa-sisa bedak dan najis Sampai aku berfikir sangat konyol “masak mau menghadap kepada Tuhan harus serba tertutup dan tak kelihatan cantiknya karena merias wajah sedikitpun nggak boleh.heheheheehehehe ” padahal menurutku kalau mau menghadap Tuhan kita harus menunjukkan anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita, seperti berias saat mau sembahyang kan pasti kelihatan segar dan cantik. Masak kalau mau berias hanya untuk kekasihnya aja.hehehehehe. Itu pemikiran yang konyol menurutku, tapi masuk akal juga sih.hehehehe.

Pada tanggal 02 Maret 2011 telah sampailah acara melasti tersebut, dan aku mengikuti melasti di bendungan siman bersama poeper dan keluarganya, aku senang bercampur sedikit merasakan keanehan karena baru pertama kali itu juga aku mengikuti melasti dan sembahyang. Aku masih ragu karena minder takut salah dalam bersembahyang. Apalagi cara duduk sembahyang laki-laki dan perempuan itu beda. Kalau laki-laki hanya duduk bersila (Padmasana) sedangkan perempuan duduk bersimpuh (Bajrasana).

Aku masih belum terbiasa duduk bersimpuh karena bersimpuh terlalu lama membuat kakiku terasa sakit sekali, sehingga mengganggu konsentrasiku dalam bersembahyang.

Tepat 4 Maret 2011 malam perayaan tawur agung pun berlangsung didaerah tempat poeper. Aku masih belum yakin untuk mengikuti persembahyangan di pura dekat rumah poeper, karena aku masih minder untuk bersosialisasi dengan lingkungan umat hindu dan ingin lebih memantapkan pilihanku ini. Aku tidak ikut persembahyangan, sebenarnya ingin sekali mengikutinya tapi tertutup dengan keminderan dan kebimbanganku aku memutuskan untuk tidak ikut.

Tapi aku mulai sangat menyesal, dalam hatiku aku merasa tersiksa ketika melihat kekompakkan umat hindu itu, mereka bersemangat sekali meskipun dalam keadaan cuaca yang hujan tapi semangatnya sangat luar biasa, aku iri melihatnya. Aku ingin sekali merasakannya masuk dilingkungan itu. Rasa keinginanku tak terbendung melihat semua itu aku menangis tak tertahan, begitu menyiksa hatiku karena belum pernah merasakan pergolakan batin yang seperti ini. Aku hanya bisa melihat, dan merasakan penyesalan yang sangat dalam.

Aku berkata pada diriku sendiri, “aku terlalu bodoh, kenapa aku mengikuti rasa egoku yang membuatku menyesal tak bisa mengikuti arak-arakan itu”. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB , arak-arakan mulai kembali didepan pura Giri Nata, saatnya untuk mengkremasi patung buta kala yang sebelumnya diarak keliling desa. Aku mendekat dari karamaian itu, aku didampingi poeper yang setelah mengikuti arak-arakan tersebut. Tepat jam 22.00 WIB acara arak-arakan selesai, dan suasana tempat poeper berubah menjadi hening sekali. Aku diantarkan pulang oleh poeper.

Keesokkan harinya 5 Maret 2011 tepat jam 06.00 WIB poeper mengirimkan pesan singkat padaku “ Doakan Catur Brata ku berjalan lancar ya”. Aku menjawab “iya, semoga semuanya berjalan lancar”, tapi pesanku tidak terkirim karena memang hp nya sudah di off. Aku bertanya-tanya kembali, ketika Catur Brata hal apa saja yang dilakukan, mengingat poeper juga pernah bercerita kalau saat melaksanakan catur brata semua aktivitas harus di hindari dan berpuasa 24 jam. Aku penasaran sekali, apa yang dia kerjakan saat itu.

Aku berangan-angan seandainya aku bisa mengikutinya, apa yang aku lakukan saat itu. Saat poeper menjalankan Catur Brata, aku berusaha mempelajari buku-buku yang dipinjaminya. Mulai dari buku berjudul “Apakah Saya Beragama Hindu” ,”Panca Sradha” lainnya tak bisa kusebutkan satu per satu. Karena memang Ayah poeper seorang Guru agama Hindu, jadi tidak heran kalau poeper memiliki banyak buku tentang agama hindu. Pengetahuanku semakin luas tentang ajaran Hindu.

Hindu, Aku Kembali Padamu (part 9)

Comments

Comments

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.