Hindu, Aku Kembali Padamu (part 13)

Tapi aku merasa tetap ingin ke sana (situs menggung). Gerimis sudah mulai turun, perjalanan tetap aku lanjutkan dengan poeper sembari berfikir. Akhirnya aku bilang ke poeper,”kita lanjut perjalanan saja”. Didalam perjalanan aku berdoa, aku memohon izin kepada Sang Hyang Widhi agar merestui tujuan spiritualku ini”. Aku mengucap gayatri mantram tanpa henti, sampai ditengah-tengah perjalanan aku merasakan ada keajaiban datang menghampiriku. Beberapa menit yang lalu mendung begitu serasa mau jatuh, hanya tinggal meneteskan titik air hujan yang sangat deras. Tapi apa yang aku dapat, tenyata cuaca pun berubah berganti cerah seakan tak ada mendung sedikitpun. Aku sangat bersyukur sekali kepada Sang Hyang Widhi atas izinnya. Dengan penuh semangat akhirnya akupun tiba ditempat tujuan.

Rasa mistisnya pun terasa, aku tak berani masuk di situs menggung karena aku sedang cuntaka. Akhirnya poeper memutuskan untuk masuk sendiri dan sembahyang disana. Selang beberapa menit poeper keluar dan mengajakku untuk masuk meskipun aku sedang cuntaka. Aku tetap tak mau karena aku takut terjadi hal yang tidak-tidak. Dengan perasaan tak menentu akhirnya aku menuruti apa yang di minta poeper, tapi sebelum masuk poeper mengingatkan aku kalau harus izin dahulu. Tepat diatas tangga situs menggung dalam hati aku berkata,

“ om swastyastu, aku pasrahkan semua ini kepada mu Sang Hyang Widhi. Aku tak ada niatan apa-apa selain mengingat akan kuasamu. Semoga tidak terjadi apa-apa. Dan mohon maaf untuk leluhurku, mohon izinkan aku dengan keadaan tidak sucianku ini masuk untuk melihat peninggalanmu. Astungkara. Dengan keadaan pasrah dan yakin aku mulai memasukinya. Aku benar-benar merasakan rasa mistis yang begitu sangat kental. Dalam waktu 5 menit aku memutuskan untuk keluar dari area, aku merasa tidak kuat. Aku merasa ini sudah cukup, terpenting aku sudah bisa melihat peninggalan leluhurku. Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB aku dan poeper memutuskan untuk pulang ke Kediri Jawa timur. Dengan perasaan senang dan ucapan syukur “Awignam astu” akhirnya rasa capek ku terbayar sudah dengan kegembiraanku bisa mengunjungi peninggalan leluhur di Jawa tengah.

Aku sangat bersyukur dengan kedamaian yang aku peroleh saat itu. Aku benar-benar berterimakasih kepada Sang Hyang Widhi atas karma yang aku terima dikehidupanku ini. Aku bersyukur bisa kembali ke jalan dharma. Aku sempat berbicara dengan poeper “Apapun yang terjadi aku akan tetap mempertahankan kehinduanku. Karena Sang Hyang Widhi sudah memberikan jawaban untukku yang belum tentu orang lain dapatkan”. Aku berdesir ketika mengatakan itu. aku merasa ada semangat baru dalam diriku.

Memasuki awal tahun 2012 aku merasakan menjadi manusia baru. Merasakan penuh semangat untuk menjalani hindupku menuju jalan dharma. Aku berdoa kepada Sang Hyang Widhi agar selalu memberikan waranugraha kepadaku.

Aku sudah mulai masuk semester VIII (semester akhir) dimana aku harus memperjuangkan masa depanku. Aku merasa disibukkan dengan tugas akhirku.

Semua ini juga kadang membuat aku sempat putus asa, tapi aku berusaha bangkit dari semua ini. Aku merasa harus lebih bersyukur dengan semua ini. Bagiku Sang Hyang Widhi akan selalu bersamaku. Keluargaku, keluarga poeper dan poeper selalu memberiku semangat untuk bisa menyelesaikan ini semua. Aku sangat bersyukur dengan kehidupan yang sekarang ini. Aku merasa menemukan rumah baruku, memang inilah jalanku.

Memasuki bulan ke 3 , maret 2012 bulan yang begitu aku nantikan. Aku benar-benar menunggu moment seperti tahun kemarin. Karena mengingat bulan maret adalah bulan menyambut hari raya nyepi tahun baru caka 1934. Bertepatan dengan banyaknya kegiatan kampusku. Jadwal sudah terlihat jelas semuanya berbenturan dengan acara melasti dan perayaan nyepi. Aku berharap ada keajaiban dibulan maret ini untukku, mengingat aku belum pernah merayakan nyepi secara langsung di pura bersama poeper dan keluarganya. Aku berdoa semoga Sang Hyang Widhi benar-benar mengabulkan keinginanku.

Bulan maret bagiku sangat istimewa, tanpa aku sadari awal maret adalah awal aku dapat keajaiban itu. tepat tanggal 03 Maret 2012 ibuku berbicara padaku masalah keyakinanku. Ibuku berkata padaku “ Ibu sudah tahu keyakinan yang kamu pilih, ayah dan ibu tidak mempermasalahkan semua itu, terpenting kamu bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu itu”. Hatiku benar-benar bedesir mendapatkan lampu hijau dari orang tuaku. aku sangat senang sekali.

Kembali ke kegiatan kampusku, aku berharap dibulan maret adalah hari yang membahagiakan untukku. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari rencana ku awal, dan Sang Hyang Widhi mengabulkan doaku sedikit demi sedikit. Jadwal kampus yang awalnya berbenturan dengan perayaan nyepi. Awalnya tanggal 18 , 24 dan 25 maret 2012 adalah jadwal yang ditentukan kampus yang wajib diikuti mahasiswa semester VIII, karena memang tanggal 18 maret adalah acara untuk melasti di bendungan siman, sedangkan tanggal 24 dan 25 maret masih menikmati ramainya hari raya nyepi. Tapi aku berdoa semoga Sang Hyang Widhi mengabulkan doaku, akhirnya tanggal yang disesuaikan kampus benar-benar tidak terjadi dan diundur tanggal berikutnya.

Hindu, Aku Kembali Padamu (the End)

Comments

Comments

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.