Hindu, Aku Kembali Padamu (part 12)

Genap tiga minggu ayahku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, karena keadaan ayahku sudah cukup baik. Satu yang aku ingat saat itu yang keadaan ayahku masih tak memungkinkan untuk bisa bertahan hidup tapi ini benar-benar suatu keajaiban. Aku hampir tak percaya , dalam hatiku adalah ini anugrah Sang hyang Widhi yang sudah mengabulkan doaku melalui “gayatri mantram”.

Sejak saat itu pula ayahku berhenti kerja sampai sekarang. Tapi aku sangat bersyukur masih bisa melihat ayahku dan ibuku. Aku melihat ada kedamaian dalam keluargaku yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan langsung dilingkungan keluargaku. Aku mulai senang bisa berkumpul lagi bersama orang tuaku. Orang tuaku memutuskan dirumah saja menemani aku dan saudaraku.

Aku tetap menjalankan prinsipku dengan kehinduanku. Aku tetap menjalankan sembahyang seiklas aku menjalaninya, tanpa merasa ada paksaan dalam hatiku. Awalnya aku sembahyang di rumahku sendiri tidak berani memakai dupa, karena aku masih menghargai keluargaku dan orang disekitar rumahku. Takutnya punya pikiran macam-macam. Tapi sebulan kemudian aku memberanikan diri untuk sembahyang memakai dupa, setelah sembahyang dupa aku matikan. Dan tak ada yang komplain ketika itu. keluargaku tak ada rasa curiga apapun padaku terutama orang tuaku. Mungkin orang tuaku sudah tahu apa yang aku lakukan mereka diam saja, dan berusaha menerima apa yang aku lakukan. Orang tuaku juga tidak pernah mengingatkan aku sholat seperti halnya yang pernah dilakukannya padaku. Aku sedikit lega ketika orang tuaku bersikap seperti itu.

Mungkin dalam benak orang tuaku ,”sudah tak patut jika aku memaksakan kehendak anakku”. Tapi orang tuaku tak pernah mengajakku berbicara masalah keyakinaku. Serasa semua ini tak di permasalahkan. Aku merasa semuanya memang rencana Tuhan, tak lupa aku ucap syukur kepada Sang Hyang Widhi.

Menjelang hari natal tiba, bertepatan kuliahku libur tanggal 22 Desember 2011 aku minta izin orang tuaku untuk berlibur ke klaten jateng, tempat poeper kuliah. Rencana nya poeper mengajakku tirta yatra ke Candi Cetho yang terletak di dusun Ceto Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar jawa tengah. Aku begitu sangat antusias sekali karena baru pertama kali juga aku berwisata religi. Keesokkan harinya tepat Jam 07.00 WIB Aku bergegas siap-siap menuju lokasi tirta yatra.

Cuaca saat itu begitu sangat cerah menggambarkan situasi hatiku. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan akhirnya aku dan poeper sampai candi cetho. Di daerah candi cetho aku merasakan suasana pedesaan yang sangat alami, benar-benar melihat kuasa Sang Hyang Widhi. Aku terheran-heran bagaimana para leluhurku ini bisa membuat candi cetho ini, hampir pada ketinggian 1400m diatas permukaan laut. Benar-benar luar biasa. Aku terkagum-kagum dengan suasana itu. Sebenarnya aku ingin sembahyang di candi cetho tersebut, tapi berhubung aku sedang cuntaka aku berusaha minta izin pada para leluhur kalau tujuanku baik, hanya ingin melihat keindahan yang sudah di buat oleh para leluhur. Aku berfoto-foto mengahabiskan waktuku disana.

Aku merasakan kedamaian berada disana. Rasanya aku tak ingin pulang. Aku merasa sudah betah tinggal disana. Tak ada halangan apapun ketika aku berada disana, karena aku berfikir” aku sudah izin kepada leluhurku, dan berdoa kepada sang hyang widhi. semua ini aku lakukan karena semata-mata aku ingin berbhakti kepada leluhurku”. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, aku dan poeper memutuskan untuk lanjut ke perjalananku selanjutnya, ke situs Menggung. Situs ini adalah tempat moksa-nya Raja Majapahit terakhir – Prabu Brawijaya V. Didalam perjalananku menuju situs menggung ada keajaiban. Mendung sangat tebal menyelimuti perjalananku dan poeper. Aku serasa tampak panik, dalam hatiku “sebentar lagi hujan akan turun”, poeper berkata padaku “ kita lanjut perjalanan atau pulang saja”, aku bingung.

Hindu, Aku Kembali Padamu (part 13)

Comments

Comments

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.