Hindu, Aku Kembali Padamu (part 10)

Aku merasa ada semangat, merasakan ada keajaiban yang membuatku sangat yakin dengan jalan yang aku pilih ini. Pertama kali aku mendapatkan mimpi yang bagiku adalah suatu anugrah dari Sang hyang Widhi. Aku menangis terharu, dalam hatiku “Sang Hyang Widhi terimakasih atas jawaban yang engkau berikan kepadaku” Aku tak banyak bertanya-tanya lagi akan makna dari mimpi itu, karena bagiku memang semua sudah jelas itu petunjuk Sang Hyang Widhi untuk memantapkan pilihanku.Tanpa ragu aku benar-benar memutuskan untuk meyakini kalau agamaku sekarang hindu. Aku berfikir ini adalah awal dimana aku memulai menuju jalan hidupku. Jadi apapun yang akan terjadi aku akan tetap mempertahankan demi keyakinanku. Aku siap apapun konsekuensinya.

Saat itu aku tak berani bercerita kepada kedua orang tuaku. Hanya poeperlah yang aku ajak sharing tentang mimpi indahku itu. Perasaan bahagia bercampur terharu, aku berfikir “Sang Hyang Widhi memang sangat menyayangiku”. Aku mencoba membuka FBku dan update status, karena ingin berbagi apa yang aku rasakan saat itu. Tapi tanpa diduga banyak sekali yang koment tentang apa yg aku rasakan saat itu. Tak sedikitpun dapat tanggapan bagus, banyak pro dan kontra. Terutama sahabat-sahabatku semasa SMA, mereka menentangku mentah-mentah kalau aku dilarang untuk masuk hindu.

Sampai-sampai aku mendapat cacian dan sikap yang tidak mengenakkan. Sempat juga aku diajak debat oleh salah satu temanku yang beragama islam dia begitu fanatik terhadap agama lain. Sebut saja dia “Mr. A”. Dia mengejekku aku kafir, karena keluar dari agama islam. Dia berusaha ngajak ngobrol aku, “Mr.A” sedang berusaha mempengaruhiku untuk bisa kembali ke agama islam. Dia bilang kepadaku “Allah tidak akan memaafkanmu karena kamu sekarang kafir jadi cepatlah kembali keislam, aku jawab “kenapa kamu bisa berkata seperti itu padaku???? Emang kamu tahu hakikat Tuhan dalam agamamu??? “Mr.A balik menjawab ”jelas tahu”. Kamu sudah menjadi kafir, jadi Allah akan menghukummu dineraka kelak, aku menjawab “Bagiku yang hanya bisa menghukum aku adalah perbuatanku sendiri yang aku lakukan dikehidupan terdahulu, sekarang dan dikehidupan mendatang.

“Mr.A” malah gak bisa jawab, malah kembali menjugde “hindu menyembah berhala dan selalu menggunakan dupa dan bunga untuk sembahyang, benar-benar memuja setan ” aku teringat pernyataan ini, karena aku dulu juga sempat berfikir seperti itu, aku kembali menjawab “Bagiku hindu tidak menyembah patung, karena Tuhan selalu ada dalam setiap jiwa manusia itu sendiri. Kalau memang kamu menganggap hindu menyembah patung apakah di islam juga sama halnya dengan anggapan kamu menyembah berhala??? Lihat saja ka’bah yang berdiri kokoh di mekkah itu juga terbuat dari batu. Umat muslim begitu memujanya, menciumi batu hajar aswat, apakah itu bukan dianggap berhala.

si Mr.A hanya diam, aku menjawab kembali Sedangkan dupa dan bunga digunakan untuk sembahyang itu adalah sebagai simbol upasaksi, atau sang penyaksi dari sembahyang yang umat hindu lakukan meyakini simbol dari sinar sucinya Tuhan, eh jangan salah nanti para penghuni surgamu juga akan mempunyai pedupaan yang dibuat dari kayu gahara (keterangan dari Abu Hurairah r.a). Aku menjawab lagi ketika dia tak bisa jawab” aku asalnya islam friend , jadi aku sudah bisa bandingkan mana yang baik untuk diriku mana yang buruk pula untuk diriku, jadi tak perlu kamu menjudge aku seperti itu. belum tentu apa yang kamu lakukan baik di mata Tuhan. Akhirnya si Mr.A tak bisa menjawab lagi. Dan pergi dengan nada kasar. Batinku “ sukurin lu, niat ngajak debat malah gak bisa jawab”. Hehhehehe….

Keesokkan harinya tepat minggu kliwon, aku ingin sekali mengikuti persembahyangan kliwon. Akhrinya poeper mengajakku ke pura giri nata untuk kedua kalinya. Tapi dalam kesempatan ini aku masuk pura merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda. Aku merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hatiku. Serasa masuk dirumahku sendiri, serasa iklas dengan penuh kesadaran. Berbeda ketika aku mengikuti hari raya kuningan 16 juli 2011 yang lalu, ketika belum memahami arti menjadi hindu. Bagiku ini benar-benar anugerah dari Sang Hyang Widhi.

Sejak saat itu aku mulai membentuk keyakinanku dengan penuh bhakti kepada Sang Hyang Widhi. Aku semakin membentuk pribadiku semakin religius. Aku merasa semakin hari semakin dekat dengan Tuhan. serasa sudah menemukan jati diriku. Setiap masuk hari kliwon dan purnama aku selalu ikut persembahyangan, rasanya sangat bersemangat sekali untuk mengikutinya. Rasa minder ku sedikit demi sedikit mulai menghilang. Aku memberanikan diri untuk sembahyang sendiri dipura tanpa ada poeper ataupun orang tua poeper.

Hindu, Aku Kembali Padamu (part 11)

Comments

Comments

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.