Uniq: Dari Batu Menjadi Hindu

Berikut ini sekelumit file tentang Masyarakat Hindu di bukit Linggo – kab. Pekalongan.

08 Agustus 1987
Dari batu menjadi hindu

ASAP dupa tercium semerbak di perkampungan berbukit itu. Penduduk keluar dari rumah beriringan, menanjak di jalan setapak, menembus hutan-hutan pinus. Para wanitanya bersolek, pipi yang menor dilapisi bedak. Tercium aroma minyak wangi cap Ikan Duyung. Remaja-remaja gunung berseliweran, memamerkan dandanannya di siang yang sejuk.

Beberapa wanita menyunggi sesajen yang sudah ditata di dalam baskom atau bakul. Atau di tempat khusus sesajen, buah dan bunga ditata meninggi meruncing. Hari itu, 13 Mei 1987, Rabu Kliwon, hari raya besar umat Hindu yang dinamai Galungan.

Inilah hari raya penting bagi pemeluk Hindu yang datang sekali dalam 210 hari. Pada hari itu, semua pemeluk Hindu menghaturkan sesajen di tempat-tempat suci yang dinamai pura. Inilah hari raya yang penuh canda-ria, berbeda dengan hari raya Hindu yang lain, Nyepi, misalnya.

Saudara, pemandangan di perbukitan hutan pinus itu bukan di Pulau Bali. Warga desa yang menuju tempat persembahyangan itu adalah warga Desa Lingga Asri, Kecamatan Kajen, 30 km selatan Kota Pekalongan — kota pesisir utara Jawa Tengah yang dikenal sebagai kota santri.

Inilah desa Hindu, satu-satunya desa di luar Bali yang tiap jengkal tanahnya meruakkan bau dupa. Coba saja lihat,
meski pura desa di sini tidak begitu besar, paling 25 x 25 meter, gapuranya terbuat dari batu berukir khas Bali,
dan konon memang dibuat oleh orang Bali.

Pada dua sisi gapura diletakkan patung. Ini pun khas Bali. Baru setelah melewati gerbang, bau Jawa tercium. Sebuah bangunan joglo, rumah khas Jawa, pendek memanjang, tempat sesaji ditaruh, berdiri di tengah. Dan sebagaimana pura biasanya, terdapat pula Padmasana. Itulah bangunan paling suci di seluruh kompleks pura itu.

“Pura ini dibangun oleh pemerintah,” kata Supardi,52, penduduk asli setempat yang menjabat sebagai pemangku — orang yang memimpin persembahyangan sehari-hari di sana. Ada ceritanya kenapa pura Lingga Asri ini dibangun oleh pemerintah. Penduduk setempat sudah membangun sebuah pura yang letaknya tak jauh dari pura yang sekarang, pada 1975. Biayanya sampai Rp 3 juta, belum termasuk tenaga sukarela.

Ternyata, lokasi pura ini menggiurkan banyak orang karena pemandangannya sangat indah di tengah-tengah hutan pinus milik Perhutani itu. Pemerintah lalu mengadakan negosiasi dengan penduduk, bagaimana kalau pura itu dipindahkan ke tempat lain.

Penduduk mau saja asal dibangun lebih baik dan lebih luas. Maka, berpindahlah tempat persembahyangan itu.
Semua biaya untuk pura yang baru ditanggung pemerintah.

Sejumlah tenaga dari Bali didatangkan untuk membuat pagar, gapura, dan Padmasana itu. Sementara itu, di lokasi pura yang lama dibangun kolam renang dan tempat penginapan. Dalam beberapa hal, penduduk Desa Lingg-Asri ini merayakan hari raya Galungan seperti halnya di Bali. Jalan-jalan di depan pura itu dihias dengan penjor bambu dihias janur.

Di depan Padmasana ditaruh meja untuk sesajen. Ada berjenis-jenis buah, selain ketupat, lemper, dan makanan lain bikinan penduduk. Jika dibandingkan dengan sesajen umat Hindu di Bali, tentu saja berbeda. Yang disini, rangkaian janurnya sangat kurang. Hanya tampak berbagai macam bunga. Orang-orang berhamburan memasuki pura dan mencari tempat duduk yang baik. Mereka berpakaian bersih dengan berbagai warna.

Para lelaki umumnya bersarung, walau ada juga yang memakai celana panjang. Di kepalanya ada destar seperti destar orang Bali, dengan lipatan kurang sempurna. Ada yang memakai blangkon dan ada pula yang mengenakan peci. Para wanita, terutama gadis-gadis remaja, memakai kain dan kebaya.

Perutnya diikat dengan selendang, persis pakaian wanita Bali. Yang unik, seseorang membawa patung kecil yang disebutnya sebagai patung Sunan Kalijaga dan Sunan Giri.

“Sunan Kalijaga itu bukan cuma milik umat Islam, tetapi kami juga merasa memilikinya karena beliau adalah perwujudan dharma,” kata orang ini.

Dharma dalam pengertian ini adalah kebenaran dan ajaran yang baik. Pada hari upacara di pertengahan Mei itu, hadir pimpinan Parisadha Hindu Dharma Pekalongan, Sukamto. Ia memakai sarung, baju jas putih dan blangkon, seperti pakaian bupati keraton Jawa.

Pemangku Supardi sendiri berpakaian serba putih, dari ikat kepala sampai celana jika itu terjadi pada umat Hindu di Bali tentulah janggal. Tak ada gamelan yang ditabuh. Sebagai pengganti supaya ada suasana persembahyangan, diputar kidung Jawa lewat tape recorder berjudul Kidung Gantimulyo.

“Kami belum mampu membeli gamelan,” kata Supardi.

Upacara pun dimulai. Dupa dibakar. Ya, seperti umumnya persembahyangan umat Hindu di mana saja: peserta mengambil bunga, ditaruh di ujung jari, tangan diangkat ke ubun-ubun, berdoa, selesai. Cukup khidmat. Pada awal persembahyangan mereka mengucapkan mantra juga, diawali dengan Oom Swastyastu, dan diakhiri dengan Oom Shanti, Shanti, Shanti, Oom.

Usai persembahyangan, penduduk masih duduk dengan tekun. Mereka mendengarkan upanisad, khotbah keagamaan, oleh Sukamto dalam bahasa Jawa ngoko diselang-selingi gending dandanggulo. Ia memberi wejangan dengan memetik beberapa ajaran dari kitab suci umat Hindu, Wedha. Juga dijelaskannya arti hari raya Galungan, yaitu hari kemenangan.

Selesai khotbah, acara makan bersama. Disusul berebut sesajen. Kemudian tersajilah pemandangan ini: sekitar 200 orang
berbaris menuruni bukit, pulang, sambil mengunyah jajan dan buah-buahan bekas sesajen.

Mimpi Batu Dipo Taruno Hindu di Desa Lingga Asri ini selalu dikait-kaitkan dengan seonggok batu yang dikeramatkan orang. Tetapi bukan batu itu yang dipuja penduduk dan bukan di batu itu persembahyangan Galungan tadi diselenggarakan. Batu ini tempatnya di bukit yang lebih tinggi lagi dan masyarakat menyebutnya Watu Lingga. Bulat memanjang sekitar setengah meter, tertancap pada tanah. Pada ujung batu ini terdapat satu huruf Jawa, ha huruf pertama dalam alfabet Jawa.

Menurut Sukamto, pimpinan Parisadha Hindu Dharma Pekalongan itu, batu tersebut dipasang ketika Kerajaan Kalingga dibangun pada abad ke-6. “Menurut cerita, di sekitar Lingga Asri inilah akan dibangun pusat Kerajaan Kalingga,” tutur Sukamto. “Tapi diurungkan, karena raja mendapat wangsit bahwa tempat ini tak cocok untuk pusat kerajaan. Pembangunan istana dilaksanakan di tempat lain,” kata Sukamto.

Tidak disebutkannya di mana lalu pusat kerajaan itu dibangun. Yang masih bisa dilihat adalah candi-candi di Dieng, sekitar 40 km dari Lingga Asri, yang konon dibangun oleh para pekerja kerajaan.

Menurut Dipo Taruno, juru kunci Watu Lingga, yang menancapkan batu itu tak lain dari Aji Saka, seorang penyebar agama Hindu yang oleh masyarakat setempat juga disebut penyebar agama Jawa. Tokoh ini dalam legenda Jawa disebut sebagai pencipta huruf Jawa. Menurut versi Dipo, kini ia 78 tahun usianya, Aji Saka itu adalah Agastya, penyebar agama Hindu dari India. Dipo mengaku pernah bermimpi mendapat keterangan bahwa batu itu sebagai pertanda dari situlah agama Hindu disebarkan di Jawa. “Batu ini lebih tua daripada Candi Dieng,” kata Dipo.

Batu yang belum terungkapkan dari sudut kepurbakalaan ini tak terlalu sulit untuk dikunjungi. Dari jalan utama yang sudah diaspal sekitar setengah kilometer, melewati jalan setapak, sempit dan berkelok-kelok. Suasana sekitar mendukung “keangkeran”. Teduh, senyap, di sekelilingnya tumbuh pohon mahoni, kopi, dan rumpun-rumpun bambu. Gemericik air dari sungai di bawahnya dan bunyi belalang hutan menambah senyap suasana di situ.

Lalu tibalah saat itu, 1951, Dipo menjadi Lurah Desa Lingga Asri. Ia menerima suara gaib, lewat mimpi. Batu itu, kata suara entah dari mana, mesti dipelihara. Maka, dibuatlah rumah kecil untuk melindungi batu dari panas dan hujan.

Cerita tentang batu itu pun segera tersebar. Mula-mula datang satu-dua orang menaruh sesajen. Lama kelamaan banyak orang mengunjungi sang batu setiap malam Jumat dan malam Selasa Kliwon. Mereka minta berkah supaya hidupnya selamat, supaya hasil panenannya baik.

Itu dulu. Kini permintaan pengunjung sudah lebih modern, minta nomor buntut dan huruf-huruf Porkas.
Adakah permintaan itu dikabulkan?

Sepanjang permintaannya “bersih” menurut Pak Dipo umumnya dikabulkan. “Kalau permintaannya jahat, ya, nomor-nomor itu pasti ditolak,” katanya.

Ia kemudian menunjuk rumahkuncup beratap ijuk dan seng, yang dibangun oleh orang dari Tasikmalaya karena permintaannya dikabulkan. Ternyata, mimpi Pak Dipo tak berhenti disitu. Suatu kali, masih di tahun 1951, ia mimpi lagi. “Suara dalam mimpi mengatakan kami disuruh kembali ke agama lama,” katanya.

“Itu artinya kami harus memeluk Hindu. Sebenarnya sebagian besar penduduk sudah Hindu, cuma belum sadar saja dan belum melaksanakan upacara-upacara Hindu. Kalau saya sendiri, agama saya yang lama adalah Kejawen.” Bekas kepala desa itu menceritakan bahwa di desanya dulu pun orang sudah ramai-ramai menyepi, atau berdoa minta kepada Murbeng Dumadi (yang memelihara jagat raya).

Mereka juga melakukan sedekahan, dan sebagainya. Tempatnya, ya di sekitar Watu Lingga itu. Lalu, suatu hari, datang seorang pendeta dari Bali bernama Kemenuh. Pendeta Hindu ini semula hanya berniat melihat batu dari zaman Kalingga itu. Dari pendeta itulah sebenarnya Dipo tahu bahwa yang dijalankan oleh penduduk sejalan dengan agama Hindu.

“Kemenuh memberitahukan yang kami lakukan selama ini sama dengan ajaran Hindu, cuma beberapa hal perlu disempurnakan,” cerita Dipo. Singkat cerita, Kemenuh lalu mengajarkan tata cara agama Hindu secara terinci, termasuk cara-cara persembahyangan. “Rasanya, kok pas dengan adat Jawa,” ujar Dipo. Atas saran Kemenuh pulalah warga masyarakat itu membangun pura tempat persembahyangan, dan tidak lagi “menyembah” batu.

Sebenarnya, tak cuma Kemenuh yang datang. Menurut Dipo, datang juga seorang Islam, sendirian. Orang itu pun menyebarkan Syahadat, mengajarkan sembahyang lima waktu. “Semula yang mengikuti ajarannya banyak. Tapi lama-kelamaan pengikutnya mulai berkurang, ajarannya banyak yang bertentangan dengan adat Jawa,” katanya.

Ia memberi contoh: dihilangkannya tradisi sedekah bagi orang mati, tidak diperbolehkannya memperingati hari kematian seperti nyewu, matang puluh dina, dan ziarah ke kuburan membakar menyan.

(Tak diceritakan oleh Dipo Taruno apakah Pendeta Kemenuh yang orang Bali itu mengizinkan “adat Jawa” itu. Sebab, menurut Hindu Bali hal-hal seperti nyewu itu pun tak ada, setidaknya tak lazim dilakukan.)

Walau begitu, sampai kini pun pemeluk Islam tetap juga ada di Lingga Asri, bahkan beberapa keluarga Dipo sendiri Islam. Dua agama ini, alhamdulillah, untunglah, bergandengan erat tanpa pernah menimbulkan konflik terbuka. Dan jangan kaget, lurah yang sekarang, Marsudi, pemeluk Islam, dan ia adalah adik Dipo Taruno.

Kini memang Supardi-lah, yang dinobatkan sebagai pemangku pada 1963, tulang punggung Hindu di Lingga Asri. Ia jugalah yang banyak mengajarkan agama Hindu kepada anak-anak. Sebab, di desa yang mempunyai dua sekolah itu
cuma ada satu guru agama Hindu.

Lebih dari30 tahun sudah Lingga Asri yang berbau wangi dupa itu hidup tenteram. Perayaan Galungan hari itu berjalan damai, seperti dulu-dulu juga dan seperti hari-hari nanti juga.

Sumber file :
http://majalah.tempointeraktif.com/id/
arsip/1987/08/08/SEL/mbm.19870808.SEL31940\
.id.html

Recent search terms:

  • menegosiasikan makna sesajen umat hindu

Comments

Comments

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.